Home Site Map

Wed, 10 Mar 2010
Site Map
CompanyProductsCustomersProduction FacilityContact Us

Home

Vacancy

Related Companies

Mail

Site Map

NEWS

By sukar | Jumat, 02-Juni-2006, 00:12:20 |RADAR BANTEN

PT Indonesia Nippon Seiki Diresmikan

CIKANDE – Satu lagi sebuah pabrik bertehnologi menengah hadir di Kawasan Industri Cikande, Serang. Adalah PT Indonesia Nippon Seiki (INS) yang memproduksi spedometer, Kamis (1/6) kemarin, diresmikan pengoperasiannya oleh Bupati Serang Taufik Nuriman.

Pabrik yang telah berproduksi sejak setahun lalu itu, memproduksi sekitar 8 ribu unit spedometer/hari, dengan mempekerjakan 665 tenaga kerja yang kebanyakan berasal dari Kibin, Cikande dan sekitarnya.
PT Indonesia Nippon Seiki merupakan satu dari sepuluh pabrik sejenis yang tersebar di Amerika, Thailand (Asia Tenggara), Shanghai, dan Brasil. Saat ini sebagian besar bahan bakunya masih diimpor (80 persen), sementara bahan baku lokal baru 10 persen. “Namun asembling (perakitan) keseluruhannya sudah dilakukan di pabrik Cikande ini,” kata seorang pemandu. Produksi PT INS saat ini terserap oleh pasar Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki.
Direktur PT INS Masaharu Takano menyatakan berdirinya pabrik perakitan ini untuk memenuhi permintaan pasar, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Serang dan sekitarnya. “Untuk itu kami berharap masyarakat dapat menerima kehadiran kami,” kata Takano.
Sementara Presiden Komisaris PT INS Shoji Nagai yang menyampaikan pidatonya dalam bahasa Jepang menyatakan bahwa PT INS Cikande yang berdiri di atas lahan 8 hektar adalah pabrik terbesar grupnya dalam produksi.
Bupati Serang Taufik Nuriman berjanji akan menyediakan infrastruktur dengan membangun interchange untuk akses masuk ke jalan tol. “Saya juga akan mempermudah perizinan bagi investor agar nantinya tidak berbelit-belit,” janjinya.
Taufik juga berjanji menjamin keamanan bagi investor. Para tamu undangan mendapat kesempatan untuk melihat-lihat proses produksi spedometer khusus sepe-da motor. (wid)


1 Juni 2009 | Serang Raya , Utama |KORAN BANTEN

Pelayanan Investasi di Banten Buruk

Gub. Banten

Gubernur Banten meninjau Pabrik Spare part otomotif NS Indonesia di Serang.

SERANG | Sejumlah pengusaha mengeluhkan iklim invetasi di Banten. Belum seriusnya perhatian pemerintah dituding menjadi penyebab berbagai hambatan bagi para investor dalam mengembangkan usahanya.

Hal itu disampaikan sejumlah pengusaha dalam Dialog Gubernur Banten dan Dunia Industri di Aula PT Indonesia Nippon Seiki di Serang, Rabu (27/5) lalu. Para pengusaha, terutama mengeluhkan kondisi infrastruktur dan ruwetnya perijinan di Banten.

Menurut Sekretaris Himpunan Pengusaha Wilayah Serang Timur, Mohan, minimnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur jalan membuat para penanam modal enggan menambah investasinya.“Hampir semua jalan yang menghubungkan kawasan industri rusak,” ujar Mohan, dalam dialog itu.

Mohan mengungkapkan, rusaknya sejumlah ruas jalan jelas merugikan pihak industri. Sebab, hal itu berimbas pada kualitas hasil produksi. Menurutnya, banyak barang hasil produksi ditolak oleh penerima order karena barang tidak lagi utuh setelah melewati jalan rusak. Selain itu, kemacetan lalu lintas yang mengantre pada jalan rusak menghambat waktu pengiriman barang.

Selain masalah infrastruktur, para pengusaha juga mengeluhkan ruwetnya perizinan di Banten. Mereka menilai banyak hal-hal adminsitratif yang tidak efektif dan membuat iklim usaha menjadi kurang nyaman.

”Contohnya, izin domisili harus diperbaharui satu tahun sekali. Padahal KTP itu diperbaharui 5 tahun sekali. Selain itu izin SITU diperbaharui 5 tahun sekali tetapi setiap tahun harus mendaftar terus,” kata Era Marjuk, dari PT. Rajawali Mandiri Sakti seraya menyatakan perlunya dibentuk forum komunikasi antara pemerintah dengan pengusaha untuk mengatasi berbagai permasalahan-permasalahan dalam dunia usaha dan birokrasi satu atap.

Sementara itu Kepala Kawasan Industri Modern Cikande Toni Waluyo mengharapkan pemerintah baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota agar dapat membuat kebijakan-kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh para pengusaha, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain hal tersebut, atas nama para pengusaha yang berada di Kawasan Industri Modern Cikande, Toni mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Serang serta Kepolisian Daerah Banten yang telah memberikan rasa aman sehingga bisa berinvestasi dengan nyaman.

Menanggapi hal itu, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah menjelaskan, Pemprov Banten terus berupaya membangun iklim kondusif bagi berkembangnya sektor industri di Provinsi Banten. Menurutnya, investasi bagi daerah memiliki manfaat yang sangat besar terutama sektor industri yang mampu menggerakan perekonomian daerah.

Untuk itu Gubernur mengharapkan peraturan-peraturan daerah yang ada di provinsi maupun kabupaten/kota yang sudah tidak sesuai lagi dengan iklim investasi hendaknya diperbaharui sehingga para investor akan berinvestasi di Provinsi Banten.

Saat ini, imbuh Atut, Banten sedang merancang iklim investasi yang sangat besar dimana investasi tersebut merupakan program pemerintah pusat, diantaranya pembangunan kilang minyak di Bojonegara. Diharapkan pembangunan tersebut mempunyai multiplayer effect karena dari proyek ini yang akan berdampak dibangunnya 35 sektor industri lainnya yang akan mendukung proyek tersebut.

“Diantaranya pembangunan jalan tol yang menghubungkan Bojonegara-Cilegon sepanjang 14 kilometer, infrastruktur kereta api, waduk untuk penyediaan air baku, pembangunan PT Gas Negara, yang dialirkan dari Provinsi Sumatera Selatan ke Provinsi Banten dan lainnya,” papar Gubernur.

Terkait keluhan para pengusaha, Atut berkilah, penanganan infrastruktur di daerah dikelola oleh tiga pihak yakni pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota. Dia mengakui bahwa sekitar 245 kilometer jalan nasioal di Banten kondisinya rusak. Kerusakan tersebut merupakan 50 persen dari 490 kilometer total jalan negara.

Menurut Atut, pihaknya tidak berani melakukan pembenahan jalan yang bukan merupakan kewenangan pemerintah daerah. Kata dia, pemerintah Provinsi Banten pernah membuat program memperbaiki jalan pedesaan. Namun hal itu menjadi masalah karena dianggap melanggar kewenangan. Meski begitu, lanjut Atut, dirinya sudah melaporkan kerusakan jalan negara tersebut kepada Departemen Pekerjaan Umum RI.

”Departemen PU sudah melakukan pemeriksaan, insya Allah dalam waktu dekat akan diperbaiki,” ujar Atut.

Soal potensi investasi, Atut juga mengambarkan, Provinsi Banten memiliki potensi yang sangat potensial dalam meningkakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal ini disebabkan karena Provinsi Banten memiliki 18 (delapan belas) kawasan industri yang tersebar di kabupaten kota, salah satunya yaitu Kawasan Industri Modern Cikande.

“Secara umum investasi akan masuk tergantung dari daya tarik daerah terhadap investasi serta adanya iklim investasi yang kondusif. Salah satunya tergantung kemampuan daerah dalam merumuskan daerah yang berkaitan dengan invetasi dan dunia usaha. Untuk itu diperlukan pelayanan yang sangat baik bagi para investor serta kita harus meningkatkan informasi tentang potensi, investasi dan dunia usaha yang ada di Provinsi Banten, sehingga Banten diminati bagi para investor,” ujar Gubernur seraya meminta pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan pelayanan dan memberikan rasa aman kepada para investor.

Usai melakukan dialog Gubernur Banten didampingi Ketua Komisi II DPRD Provinsi Banten-Mediawarman, Wakil Bupati-Andi Sujadi beserta beberapa Kepala SKPD Provinsi Banten terkait, meninjau PT Indoneisa Nippon Seiki yang bergerak pada bidang produksi speedometer kendaraan bermotor dan ke PT Yasunaga di kawasan yang sama bergerak dibidang otomotif. (ENK/IKA/ZAL)


 


 


Copyright ® 2005 IT - PT. Indonesia Nippon Seiki

Home     Related Companies      Vacancy     Privacy Policy     Site Map    Map INS